May 31, 2010

Jutaan Kata-kata

Aku membelanjakan terlalu banyak uang 
untuk membeli kata-kata, 
tapi tak satu pun bisa kugunakan. 
Ini karena aku harus bicara di depan kamu.

Aku telah bertatapan mata, bicara berdua dengan hati. 
"Ayo bilang pada dia," kataku pada hati. 
Hati setuju. Dan kubeli jutaan kata-kata.

..tapi kamu membungkam semuanya. 
Kata-kata yang mahal menjadi tak bernilai. 
Senyumanmu merendahkan nilai sejuta kata. 
Apa yang bisa kulakukan?

Uangku telah habis di Supermarket Kata,
tapi semua ini jadi percuma. 
Bisakah kau membaca,
semua kata-kata yang telah kubeli dan kusimpan di hati?

Kata mereka aku tak perlu berkata-kata,
tindakanku mengatakan semuanya. 
Mataku bertutur lebih bawel.
Tapi, kenapa tetap kubelanjakan uang ini?

..aku, hanya ingin telinganya mendengar. Begitu.

Si penjual kata-kata sekarang telah kaya, dan aku menjadi miskin. 
Tumpukan kata-kata berkardus-kardus di kamarku, 
belum satu pun kupakai. Belum satu pun.

Adakah penjual keberanian? 
Supaya bisa kugunakan sejuta kata-kata yang telah kubelanjakan.

..tapi kata mereka keberanian tidak seperti kata-kata, 
keberanian tidak bisa dibeli, karena tersembunyi di dalam hati. 
Aku harus mencarinya sendiri.

Oh, aku tak berani. 
Akan kukumpulkan milyaran uang demi membeli keberanian, 
supaya jutaan kata-kata dapat terpakai. 
Supaya ia bisa dengar.

..tapi keberanian itu tak bisa dibeli. Keberanian ada di dalam hati.

Jadi harus kugunakan keberanian itu. 
Untuk menggunakan kata-kata yang hampir membusuk, 
karena disimpan terlalu lama. 
Hey, knp tak kau baca saja sendiri?

Ah, sulitnya berkawan dengan kata-kata. 
Padahal hati sudah cerewet kemana-mana. 

Hmph. 
Ironis.

0 comments: