March 2, 2010

Buat kamu, yang tersinting.

Buat kamu, yang tersinting,

Kamu sinting. Itu yang paling aku tau soal kamu.

Aku tau kamu paling suka siomay. Dan waktu kamu makan kamu gak peduli mulutmu belepotan. Kadang bahkan anak kecil bisa makan lebih rapi dari kamu yang seperti dua bulan lamanya gak makan.

Aku tau kamu juga paling suka nonton bola. Entah di mana menariknya, lapangan hijau dan bola yang berlarian itu bisa bikin kamu liatin TV sampai TVnya bosan.

Aku juga tau kamu nggak keberatan menunggu lama. Meskipun jalan selalu cepet-cepet, makan selalu buru-buru, kamu gak pernah keabisan akal kalau menunggu. Kamu bisa ajak ngobrol siapapun sampai ke nenek-nenek. itu keren, kamu tau?

Aku suka kebiasaan jelekmu. Yang kalau lagi ngomong kamu seringkali garuk-garuk hidung. Atau kebiasaan ngupilmu. Kamu tau? Aku suka. Bahkan upilmu.

Aku tau sifatmu. Yang penyayang. Bahkan binatang terkecil pun kamu gak berani injak. Seperti kecoak misalnya. Aku tau bukan karena takut, "Makhluk terkecil di dunia pun berhak hidup." Ini kata-kata yang gak pernah aku lupa waktu aku teriak-teriak suruh kamu bunuh kecoak. Yah, kamu aneh, kubilang.

Bahkan aku tau sifat jelekmu. Ketika emosimu terlalu tenang ketika sesuatu yang shocking terjadi. Aku gak tau kamu bisa begitu emotionless menghadapi situasi bangkrutnya perusahaanmu. Apakah ini sifat jelek? Menurutku. Kamu harus sedikit merenggangkan emosimu. 

Kadang aku merasa tau kamu, tapi lebih banyak aku merasa gak tau kamu. Bukan karena aku gak pintar, atau kamu kurang membuka diri, tapi karena kamu berbeda-beda. Waktu bersamaku kamu bisa seperti monyet yang kegirangan mendapat kacang. Tapi di lain waktu, ketika bersama orang lain, kamu bisa begitu cool seperti bukan kamu.

Kamu juga sering terlihat merenung, seperti berpikir jauh entah ke mana. Kadang kamu juga gak aware dengan keadaan sekitar. Tapi aku tetap suka kamu.

Aku suka kamu kapanpun kamu ada. Di waktu-waktu terjorokmu, di waktu-waktu emosi datarmu, di waktu-waktu bahkan ketika kamu menjadi sangat aneh. Seperti waktu itu. Yah, di saat terburukmu aku bisa menjadi orang terbaikmu, mungkin. Aku mau dianggap begitu. Orang terbaikmu.

Karena aku mengakui kamu, dengan segala kejelekan sifat dan kebiasaanmu, kamu ada di hatiku. Ini yang gak bisa aku lepaskan. Karena kamu ada di pikiranku dari pagi sampai siang. Lalu siang, yang ada di pikiranku adalah makanan, tapi setelah makanan, kamu ada lagi di pikiranku. Dan terus nggak pernah lari dari situ. 

Kalau aku bisa jujur, kamu udah jadi bagian yang aneh di hatiku. Seperti tonjolan apa aku gak tau. Tapi kamu selalu menonjol di hatiku. Iya, kamu tonjolan aneh di hatiku.

Sekarang, apa yang bisa aku katakan lagi tentang kamu. Aku gak perlu bilang tentang perasaanku. Karena kamu udah tau. Aku gak perlu bilang bagaimana aku suka banget sama kamu. Atau cinta. Kamu selalu bilang kata-kata gak bisa gantiin apa yang kamu rasa. 

Sekarang aku cuma mau bilang, kamu gila. Kamu gila, karena belum ada yang suka aku seperti kamu sekarang. Bukannya aku sok tau mengenai perasaanmu, tapi aku memang sok tau. Nah, aneh kan kamu bisa menyukaiku?

Kamu, aku, kita. Sama-sama gila kan? Gak papa, toh dunia ini punya kita.

Salam gila selalu,
Viona.

2 comments:

neeenaaa aaanneeenn said...

salam gelaaa

xD

Vie™ said...

hahahahahha....