June 15, 2010

Permen Kapas

kamu tahu rasanya permen kapas?

manis.
meleleh.
hangat.

seperti itu juga rasanya
ketika mataku menyentuh dasar kedalaman matamu
ketika hidungku mencuri-curi aromamu
ketika telingaku menelusuri suaramu

manis.
meleleh.
hangat.

aku suka permen kapas.
tapi aku lebih suka kamu.

May 31, 2010

Jutaan Kata-kata

Aku membelanjakan terlalu banyak uang 
untuk membeli kata-kata, 
tapi tak satu pun bisa kugunakan. 
Ini karena aku harus bicara di depan kamu.

Aku telah bertatapan mata, bicara berdua dengan hati. 
"Ayo bilang pada dia," kataku pada hati. 
Hati setuju. Dan kubeli jutaan kata-kata.

..tapi kamu membungkam semuanya. 
Kata-kata yang mahal menjadi tak bernilai. 
Senyumanmu merendahkan nilai sejuta kata. 
Apa yang bisa kulakukan?

Uangku telah habis di Supermarket Kata,
tapi semua ini jadi percuma. 
Bisakah kau membaca,
semua kata-kata yang telah kubeli dan kusimpan di hati?

Kata mereka aku tak perlu berkata-kata,
tindakanku mengatakan semuanya. 
Mataku bertutur lebih bawel.
Tapi, kenapa tetap kubelanjakan uang ini?

..aku, hanya ingin telinganya mendengar. Begitu.

Si penjual kata-kata sekarang telah kaya, dan aku menjadi miskin. 
Tumpukan kata-kata berkardus-kardus di kamarku, 
belum satu pun kupakai. Belum satu pun.

Adakah penjual keberanian? 
Supaya bisa kugunakan sejuta kata-kata yang telah kubelanjakan.

..tapi kata mereka keberanian tidak seperti kata-kata, 
keberanian tidak bisa dibeli, karena tersembunyi di dalam hati. 
Aku harus mencarinya sendiri.

Oh, aku tak berani. 
Akan kukumpulkan milyaran uang demi membeli keberanian, 
supaya jutaan kata-kata dapat terpakai. 
Supaya ia bisa dengar.

..tapi keberanian itu tak bisa dibeli. Keberanian ada di dalam hati.

Jadi harus kugunakan keberanian itu. 
Untuk menggunakan kata-kata yang hampir membusuk, 
karena disimpan terlalu lama. 
Hey, knp tak kau baca saja sendiri?

Ah, sulitnya berkawan dengan kata-kata. 
Padahal hati sudah cerewet kemana-mana. 

Hmph. 
Ironis.

April 17, 2010

Dia. Sekali lagi, dia.





March 29, 2010

Bintang

"Sini, kugendong. Aku akan membawamu lebih dekat pada bintang." katanya sambil berjongkok menawarkan punggungnya.

Di panggung jalanan malam itu, tarian malaikat pun tak dapat menyaingi kami. Titik-titik lembut sang hujan menjadi penari latar kami. Kami larut dalam musik hati. Dentuman jantungnya bersahutan dengan dentuman jantungku, membuat sebuah harmoni; lebih cepat dari irama hujan, lebih indah dari tarian bintang.

"Kamu nggak membawaku lebih dekat pada bintang," kataku akhirnya, "kamulah bintang itu."

Dan langit pun tersipu, menutup layar besarnya, dan tak berani menampilkan bintangnya.